MAKALAH علم اللغة النفسي والإجتماعي TENTANG اللغة والمجتمع

MAKALAH
علم اللغة النفسي والإجتماعي
TENTANG
اللغة والمجتمع

 

KELOMPOK 7
Elsa Sepputri : 2020020010

Dosen Pembimbing:
Dr. Asrina, M.Ag

PROGRAM PASCA SARJANA PENDIDIKAN BAHASA ARAB
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
IMAM BONJOL PADANG
2021 M / 1442 H


KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-nya kepada kita semua berupa, ilmu dan amal. Berkat rahmat dan karunia-nya pula, penulis dapat menyelesaikan makalah علم اللغة النفسي والإجتماعي yang insyaallah tepat pada waktunya.
Terimakasih penulis ucapkan kepada Dosen Pembimbing yang telah memberikan arahan terkait tugas makalah ini. Tanpa bimbingan dari beliau mungkin, penulis tidak akan dapat menyelesaikan tugas ini sesuai dengan format yang telah di tentukan.
Penulis menyadari makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh sebab itu, penulis mengharapkan kritik dan sarandari pembaca demi kesempurnaan makalah ini untuk kedepannya. Mudah-mudahan makalah ini bermanfaat bagi penulis dan juga bagi para pembaca.




Padang,   Maret 2021


Penulis 








BAB I
A. Latar Belakang
Bahasa dan masyarakat, bahasa dan kemasyarakatan, dua hal yang bertemu di satu titik, artinya antara bahasa dan masyarakat tidak akan pernah terpisahkan. Bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang arbitrer, digunakan oleh anggota masayarakat sebagai alat komunikasi, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri. 
Bahasa begitu melekat erat, menyatu jiwa di setiap penutur di dalam masyarakat. Ia laksana sebuah senjata ampuh untuk mempengaruhi keadaan masyarakat dan kemasyarakatan. Fungsi bahasa sebagai alat untuk berinteraksi atau berkomunikasi dalam arti alat untuk menyampaikan pikiran, gagasan, konsep atau juga perasaan di dalam masyarakat inilah di namakan fungsi bahasa secara tradisional. Maka dapat di katakan hubungan antara bahasa dan penggunanya di dalam masyarakat ini merupakan kajian sosiolinguistik.

B. Rumusan Masalah
a. Apa pengertian bahasa?
b. Apa pengertian masyarakat?
c. Bagaimana peran bahasa dalam masyarakat?

C. Tujuan Masalah
a. Menjelaskan  pengertian bahasa
b. Menjelaskan  pengertian masyarakat
c. Menjelaskan peran bahasa dalam masyarakat








BAB II
A. Pengertian Bahasa
Bahasa adalah alat komunikasi yang terorganisasi dalam bentuk satuan-satuan seperti kata, kelompok kata, klausa, dan kalimat yang diungkapkan baik secara lisan maupun tulis. didunia ini terdapat ribuan bahasa dan setiap bahasa mempunyai sistem nya sendiri-sendiri yang disebut tata bahasa. Meskipun kegiatan berkomunikasi dapat dilakukan dengan alat lain, selain bahasa pada prinsipnya, manusia berkomunikasi dengan menggunakan bahasa pada kontes ini, bahasa yang digunakan adalah bahasa manusia  buka bahasa binatang, dalam hal tertentu binatang dapat melakukan komiunikasi dengan sesamanya dengan menggunakan bahasa binatang hal yang menjadi bahan pembicaran disini bukan bashasa binatang, melainkan bahasa manusia. 
Bahasa dalam pengertian linguistik sistemik fungsional (LSF), adalah bentuk semiotika sosial yang sedang melakukan pekerjaan didalam suatu konteks situasi dan konteks kultural yang digunakan baik secara lisan maupun secara tulis. dalam pandangan ini, bahasa merupakanb suatu kontruk yang dibentuk melalui fungsi dan sistem secara silmultan. ada dua hal penting yang perlu digaris bawahi.  Pertama secara sistemik, bahasa merupakan wacana atau teks yang terdiri dari sejumlah sistem unit kebahasaan yang secara hirarki bekerja secara simultan dari sistem yang lebih  rendah: fonologi/grafologi, menuju kesistem yang lebih tinggi: leksikogramatika, struktur teks, dan semantik wacana. Kedua secara fungsional, bahasa digunakan untuk mengekspresikan suatu tujuan atau fundsi proses sosial didalam konteks situasi dan konteks cultural. 
Menurut Wardaugh, bahasa adalah seperangkat pengetahuan yang digunakan untuk menyatakan atau mengungkapkan sesuatu dalam bentuk suara, kata-kata, atau kalimat. It is knowladge of rules and ways of saying and doing things with sounds, words and sentences without any guiding principle for their use. Jadi, masih menurut Wardaugh, kumpulan suara, kata atau bahkan kalimat bisa dikatakan sebagai sebuah bahasa kalau kumpulan-kumpulan itu mengandung aturan. Dengan kata lain, kumpulan itu sersifat sistematis. 
Sedangkan menurut Chaer, pengertian bahasa bisa diteropong melalui ciri-ciri yang ada dalam bahasa. Ciri-ciri bahasa yang juga merupakan hakikat bahasa itu, antara lain, adalah bahasa itu sebuah sistem lambang, berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi. Jadi, dalam konteks ini penulis berpendapat bahwa bahasa adalah sebuah sistem lambang yang berbentuk bunyi dan bersifat sistematis serta memiliki makna yang terkandung dalam kata dan kalimat serta wacana. Berdasarkan pengertian bahasa di atas, maka kita bisa mengambil benang merah bahwa sesuatu bisa dikatakan bahasa jika memiliki unsur-unsur sebagai berikut: 
1. memiliki lambang dan bunyi
2. bersifat sistematis
3. memiliki makna 
4. berbentuk kata, kalimat dan wacana 
Pertama, bahasa memiliki lambang dan bunyi. Jadi keberadaan sebuah bahasa tidak hanya mengandung lambang, namun juga bunyi. Oleh karena itu lambang-lambang, seperti gambar sendok dan garpu yang ada di restoran, belum bisa disebut sebagai bahasa karena tidak memiliki bunyi. Hubungan antara lambang dan bunyi dalam bahasa tidak bisa dipisahkan karena keduanya adalah faktor dasar dalam bahasa. Namun kedua unsur di atas belumlah cukup, karena walaupun ada lambang dan bunyi, kalau keduanya tidak memiliki sistem yang sistematis, maka itu bukanlah bahasa. Oleh karena itu, syarat yang kedua adalah bersifat sistematis. Dengan kata lain, lambang dan bunyi haruslah memiliki pola tertentu. Dalam konteks ini, makna sistematis merujuk pada pengertian yang dibuat 
oleh Chaer, menurutnya sistematis maksudnya adalah suatu bahasa tersusun menurut pola tertentu, tidak tersusun secara acak atau sembarangan. Ambil saja sebuah contoh kata [k/a/d/e/r]. Kata itu merupakan kumpulan lambang yang memiliki bunyi (sistem fonetik) ”k/a/d/e/r” yang tersusun secara sistematis. 
Ketiga adalah bermakna. Jika unsur pertama dipertemukan dengan unsur yang ke dua, maka akan melahirkan sebuah konsep atau makna. Sebuah makna awalnya terkonstruk dalam otak manusia, yang kemudian disepakti bersama antara anggota masyarakat sebagai pengguna bahasa. Oleh karena itu, makna pada dasarnya bersifat abstrak yang ada dalam pikiran manusia. Konsep makna semacam ini dimunculkan oleh Kempson dalam bukunya Semantic Theory, menurut Kempson another solution to the problem of explaining the nature of word meaning, which has an equally long tradition, is to explain the meaning of a word in terms of in the speaker’s (or hearer’s) brain). 
Keempat adalah Bahasa berbentuk kata, kalimat dan wacana. Kata adalah kumpulan dari lambang yang berupa huruf dan bersifat sistematis. Sedangkan kalimat adalah kumpulan dari kata yang bersifat sistematis. Selanjutnya wacana adalah kumpulan arti kalimat yang sistematis sehingga mampu membentuk pemahaman yang komprehensif. Inilah unsur bahasa yang terbesar pada saat ini. Selanjutnya, dalam sebuah wacana terdapat sebuah ideologi. Menurut penulis ideologi tersebut memiliki fungsi yang sama dengan makna sebagai pencakup sebuah konsep. Namun wilayah ideologi lebih luas dari pada wilayah makna. Berdasarkan uraian di atas, maka menurut penulis sesuatu hal bisa disebut bahasa jika terdiri atas bentuk dan makna. Selanjutnya sebuah bentuk dalam bahasa terdiri atas lambang dan bunyi, dalam linguistik kita mengenal phonem-fonetik, morfem dan sebagainya. Selanjutnya sebuah lambang bisa berupa huruf, kata, kalimat ataupun wacana. Jadi, kata ”sesat” dalam topik kita kali ini merupakan wilayah kajian bahasa. 

B. Pengertian Masyarakat
Banyak deskripsi yang dituliskan oleh para pakar mengenai  pengertian masyarakat. Dalam bahasa Inggris dipakai istilah society yang berasal dari kata Latin socius, berarti “kawan”. Istilah masyarakat sendiri berasal dari akar kata Arab “syaraka“ yang berarti “ikut serta, berpartisipasi”. Masyarakat adalah sekumpulan manusia saling “bergaul”, atau dengan istilah ilmiah, saling “berinteraksi”. 
Menurut Phil Astrid S. Susanto, masyarakat atau society merupakan manusia sebagai satuan sosial dan suatu keteraturan yang ditemukan secara berulang-ulang, sedangkan menurut Dannerius Sinaga, masyarakat merupakan orang yang menempati suatu wilayah baik langsung maupun tidak langsung saling berhubungan sebagai usaha pemenuhan kebutuhan, terkait sebagai satuan sosial melalui perasaan solidaritas karena latar belakang sejarah, politik ataupun kebudayaan yang sama. 
Dari beberapa pengertian tersebut, dapat dimaknai bahwa masyarakat merupakan kesatuan atau kelompok yang mempunyai hubungan serta beberapa kesamaan seperti sikap, tradisi, perasaan dan budaya yang membentuk suatu keteraturan. Adapun macam-macam masyarakat yaitu:
a. Masyarakat modern 
Masyarakat modern merupakan masyarakat yang sudah tidak terikat pada adat-istiadat. Adat-istiadat yang menghambat kemajuan segera ditinggalkan untuk mengadopsi nila-nilai baru yang secara rasional diyakini membawa kemajuan, sehingga mudah menerima ide-ide baru.
Berdasar pada pandangan hukum, Amiruddin, menjelaskan bahwa dalam masyarakat modern mempunyai solidaritas sosial organis. Menurut Chairuddin, solidaritas organis didasarkan atas spesialisasi. Solidaritas ini muncul karena rasa saling ketergantungan secara fungsional antara yang satu dengan yang lain dalam satu kelompok masyarakat. Spesialisasi dan perbedaan fungsional yang seperti diungkapkan tersebut memang kerap dijumpai pada masyarakat modern. 
Selain adanya solidaritas organis, Amiruddin juga menjelaskan bahwa hukum yang terdapat dalam masyarakat modern merupakan hukum restruktif yaitu hukum berfungsi untuk mengembalikan keadaan seperti semula dan untuk membentuk kembali hubungan yang sukar atau kacau kearah atau menjadi normal. Jadi masyarakat modern merupakan yang sudah tidak terpaku pada adat-istiadat dan cenderung mempunyai solidaritas organis karena mereka saling membutuhkan serta hukum yang ada bersifat restruktif.
b. Masyarakat tradisional 
Masyarakat tradisional merupakan masyarakat yang masih terikat dengan kebiasaan atau adat-istiadat yang telah turun-temurun. Keterikatan tersebut menjadikan masyarakat mudah curiga terhadap hal baru yang menuntut sikap rasional, sehingga sikap masyarakat tradisional kurang kritis. Menurut Rentelu, Pollis dan Shcaw yang dikutip dalam masyarakat tradisional merupakan masyarakat yang statis tidak ada perubahan dan dinamika yang timbul dalam kehidupan. 
Dari pengertian tersebut dapat disimpulkan bahwa masyarakat tradisional merupakan masyarakat yang melangsungkan kehidupannya berdasar pada patokan kebiasaan adat-istiadat yang ada di dalam lingkungannya. Kehidupan mereka belum terlalu dipengaruhi oleh perubahan-perubahan yang berasal dari luar lingkungan sosialnya, sehingga kehidupan masyarakat tradisional cenderung statis. Menurut P. J Bouman hal yang membedakan masyarakat tradisional dengan masyarakat modern adalah ketergantungan masyarakat terhadap lingkungan alam sekitarnya. 

C. Peran Bahasa dalam Masyarakat
Bahasa dan Masyarakat Dalam pandangan sosiolinguistik, bahasa itu juga mempunyai ciri sebagai alat interaksi sosial dan sebagai alat mengidentifikasi diri. Berdasarkan uraian di atas, maka peran bahasa ada dua, yaitu:
1. Sebagai alat interaksi sosial
 Bahasa sebagai alat interaksi sosial berarti bahasa digunakan sebagai alat komunikasi antar anggota masyarakat dalam lingkungan sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa merupakan alat untuk menyampaikan gagasan dari pembicara kepada pendengar. Contoh, di lingkungan sekolah, bahasa berfungsi sebagai alat interaksi antar guru dengan murid, guru dengan kepala sekolah, dan murid dengan murid. Tentunya dalam interaksi tersebut, ada informasi atau pesan yang ingin disampaikan oleh pembicara kepada pendengar, misal materi pembelajaran.
2. Sebagai alat untuk mengidentifikasi diri 
Di sisi lain, bahasa juga sebagai alat untuk mengidentifikasi diri, baik pribadi maupun kelompok. Jadi, keberadaan bahasa dalam masyarakat, merupakan cerminan dari masyarakat tersebut. Setiap anggota masyarakat (atau bahkan secara individu), memiliki karakteristik masing-masing dalam berbahasa. Dalam kelompok, kita mengenal istilah dialek, yaitu variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada satu tempat, wilayah, atau area tertentu. Jadi wilayah atau tempat di mana bahasa itu digunakan mempengaruhi penggunaan bahasa tersebut. Contoh, bahasa kelompok masyarakat pesisir akan berbeda dengan bahasa pada kelompok masyarakat pesantren. Karena kondisi geografis dan lingkungan menentukan perbedaan penggunaan bahasa oleh penuturnya.
Dalam lingkup perseorangan, kita mengenal istilah idiolek, yaitu variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Jadi, dalam hal ini, tiap orang memiliki karakteristik masing-masing dalam penggunaan bahasa. Dengan kata lain, akan ada perbedaan bahasa pada masing-masing individu, baik yang berhubungan dengan kualitas suara, pemilihan kata (diksi), maupun gaya bahasanya.Jadi, menurut uraian di atas, bahasa memang benar-benar berfungsi sebagai alat untuk mengidentifikasi diri, baik individu maupun kelompok. Salah satu alasan bahwa bahasa bisa digunakan sebagai alat untuk mengidentifikasi diri karena bahasa merupakan bagian dari masyarakat, dalam hal ini bahasa merupakan sub-bagian dari budaya yang ada dalam masyarakat 
Dalam satu aspek kebudayaan, Sapir dan muridnya, Whorf, berpendapat dalam Samsuri bahwa bahasa itu menentukan dan memainkan peranan yang sangat penting dalam mengembangkan kebudayaan manusia. Aspek pikiran dan cara berfikir manusia sangat  dipengaruhi oleh bahasa mereka.  

















BAB III
A. Kesimpulan
1. Pengertian Bahasa
Bahasa adalah alat komunikasi yang terorganisasi dalam bentuk satuan-satuan seperti kata, kelompok kata, klausa, dan kalimat yang diungkapkan baik secara lisan maupun tulis. didunia ini terdapat ribuan bahasa dan setiap bahasa mempunyai sistem nya sendiri-sendiri yang disebut tata bahasa.
Berdasarkan pengertian bahasa di atas, maka kita bisa mengambil benang merah bahwa sesuatu bisa dikatakan bahasa jika memiliki unsur-unsur sebagai berikut: 
a) memiliki lambang dan bunyi
b) bersifat sistematis
c) memiliki makna 
d) berbentuk kata, kalimat dan wacana 

2. Pengertian Masyarakat
Pengertian masyarakat. Dalam bahasa Inggris dipakai istilah society yang berasal dari kata Latin socius, berarti “kawan”. Istilah masyarakat sendiri berasal dari akar kata Arab “syaraka“ yang berarti “ikut serta, berpartisipasi”. Masyarakat adalah sekumpulan manusia saling “bergaul”, atau dengan istilah ilmiah, saling “berinteraksi”.

3. Peran Bahasa dalam Masyarakat
a) Sebagai alat interaksi social
Bahasa sebagai alat interaksi sosial berarti bahasa digunakan sebagai alat komunikasi antar anggota masyarakat dalam lingkungan sosial. Dalam kehidupan sehari-hari, bahasa merupakan alat untuk menyampaikan gagasan dari pembicara kepada pendengar.
b) Sebagai alat untuk mengidentifikasi diri 
Di sisi lain, bahasa juga sebagai alat untuk mengidentifikasi diri, baik pribadi maupun kelompok. Jadi, keberadaan bahasa dalam masyarakat, merupakan cerminan dari masyarakat tersebut. Setiap anggota masyarakat (atau bahkan secara individu), memiliki karakteristik masing-masing dalam berbahasa. Dalam kelompok, kita mengenal istilah dialek, yaitu variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada satu tempat, wilayah, atau area tertentu. Jadi wilayah atau tempat di mana bahasa itu digunakan mempengaruhi penggunaan bahasa tersebut.


B. Saran
Penulis sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, oleh sebab itu penulis membuka dengan lapang dada apabila ada kritik dan saran demi kesempurnaan makalah-makalah selanjutnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pembelajaran Jarak Jauh

Kelebihan Lingkungan sebagai Media Pembelajaran

Teknik Pemanfaatan Lingkungan Sebagai Media Pembelajaran